Sabtu, 20 Oktober 2012

Cerpen Persahabatan


 Rima & Difa
Oleh : Diana Putri & Dhea Mirzha Indria
Uh...! Masih terbayang dibenakku perkataan Difa yang membuatku sakit hati. Belum lagi ejekan teman-temanku yangh memuatku mati kesalnya. Semua anak kelasku menyebut aku pembohong, ini semua gara-gara Difa. Semenjak dua hari ini kami bertengkar gara-gara aku mengatakan ia sebagai pembohong karena ia tidak mau memenuhi janjinya yaitu mentraktirku dan memberiku sebuah boneka. Sepertinya dia mau balas dendam kepadaku , ia mengupas habis kehidupanku kepada teman sekelasku. Ia mengatakan bahwa sebenarnya aku tidak mempunyai rumah mewah, mobil mewah dan lain-lain. Ia bahkan mengatakan profesi orangtuaku sebenarnya. Ibuku bekerja sebagai kuli bangunan dan ibuku sebagai pembantu rumah tangga. Selama 2 tahun kami bersahabat, baru kali ini kami bertengkar sampai berhari-hari, biasanya kami bertengkar beberapa menit kemuadian baikan. Hanya Difa yang mengetahui kehidupanku. Aku berbohong kepada temanku yang lain karena aku malu dengan keadaanku. Kehidupanku jauh berbeda dengan Difa, papanya adalah direktur sebuah bank ternama, sedangkan mamanya adalah dokter di klinik miliknya. Sedangkan aku , aku hanya tinggal di rumah sederhana dan jika siang aku selalu sendiri karena kedua orang tuaku bekerja menghidupiku. Orangtuaku dan orang tua Difa sudah cukup kenal dan berhubungan baik. Kami berdua adalah murid kelas XI di SMA swasta NUSA BANGSA dikota kami, Tangerang.
Disekolah tidak ada satupun yang ingin berteman denganku, aku makin tidak tahan, tapi aku tidak ingin minta maaf pada Difa karna nanti aku dikira kalah. Belum lagi dirumah, uuh...! Hanya caty sang kucing yang masih setia kepadaku, caty kudapat bersama Difa di samping sekolah. Caty begitu baik kepadaku, dia selalu menghiburku dengan tingkah dengan tingkah-tingkah anehnya. Aku dan Difa sangat menyayanginya. Sore hari ayah dan ibuku pulang, seperti biasa dan telah menjadi kewajibanku untuk menyiapkan minum untuk mereka.
Minggu pagi, ibu dan ayah tidak bekerja maka ibulah yang menyiapkan sarapan. Akupun bangun, mandi lalu sarapan.
“Rima, pagi ini ayah dan ibu akan pergi kerumah nenek, karena nenek sedang sakit”, kata Ayah.
“Iya,Rim. Jaga rumah ya! Karena mungkin ibu dan ayah pulang agak malaman”, sambut ibu.
“Santai aja, bu”, rumah pasti Rima jagain, biar nggak kabur...he..he..he..”
“Kamu ini, ibu dan ayah pergi dulu ya.
                Setelah makan, akupun mengajak Caty jalan-jalan. Caty kumasukkan dalam keranjang lalu aku mulai naik sepeda dan berkeliling. Tiba-tiba ada seorang anak perempuan memanggilku, akupun menghentikan kayuhan sepedaku. Anak kecil itu adalah tetangga Difa, ia memberiku surat yang katanya dari Difa. Kubaca surat itu,.
                Ah..hanya  ini isinya, kukira ia mau minta maaf kepadaku. Uh, ya jelaslah Caty kan sahabatku pasti akan kuberi makan dengan baik. Bagaimana ya agar ia mau minta maaf kepadaku Caty?
“Meon..meong..” Oh ya, bagaimana kalau masalah ini kuberi tahu ibunya.
Keesokan harinya, sepulang sekolah tanpa ganti pakaian Rima pergi kerumah Difa dengan Caty kebetulan Difa dan ibunya sedang dirumah. Difa mengajak Caty jalan –jalan dan bermain. Rima menceritakan pada ibu Difa kalau Difa telah menceritakan kepada teman-teman disekolah tentang keadaan orang tua Rima yang sebenarnya. Difa dan Caty pulang, Rima pun permisi pulang kepada ibu Difa. Ibu Difa pum menasehati Difa.
“Difa, kita tidak boleh menceritakan kehidupan orang lain pada orang”, kata ibu.
“Tapikan bu, itu memang kenyataannya”, sela Difa.
“Itu bukan urusan kita, suatu sa’at dia pasti akan mengakuinya. Kalau kamu memang ingin menyadarkannya, kamu tidak harus bilang langsung ke orang, kamu hanya perlu menasehatinya saja”. Setitik demi setitik ir mata Difa mulai menetes.
                Keesokan harinya di sekolah, wajah Difa murung memikirkan nasihat ibunya. Sementara Rima bersorak gembira karna Difa minta maaf di depan teman-temannya. Teman-teman sekelas mereka memusuhi Difa karna menganggap Difa menfitnah Rima.
Senin pagi, ketika Tika, teman sekelas mereka akan berangkat sekolah. Dia tidak sengaja lewat depan rumah Rima, dan saat itu Rima sedang pamit kepada ibu dan ayahnya.
Tika pun menceritakan hal itu pada semua teman-temannya. Ketika Rima lewat, semua teman mentertawakan dan mengejeknya. Rima sadar, dia mendatangi Difa yang sedang berada di toilet.
“Difa, apa lagi yang kamu lakukan? Kenapa mereka mengejek ku lagi?”,sergah Rima.
“Apa maksudmu, Rim?”, tanya Difa tak mengerti.
“Apa lagi yang kamu katakan pada mereka? Baru aja kamu minta maaf, udah kamu ulangi lagi kesalahan itu!
“Katakan apa? Aku tidak pernah mengatakan apapun pada mereka.
“ya..ya..ya, pintar seakli kau berbohong teman,
“Demi Tuhan Rima, aku tidak pernah mengatakan apapun pada mereka.
“Nggak usah bawa-bawa nama Tuhan aku benci orang munafik!,. Sambil berlalu pergi.
                Difa berpikir keras dan bertanya pada Mia teman yang juga sekelas dengannya dan juga Rima.
“Mia, apa yang terjadi pada teman-teman yang lain? Mengapa mereka menertawakan Rima?”
Bukannya semalam keadaan sudah baik-.baik saja?
“Tadi pagi sebelum kalian datang, Tika bercerita bahwa perkataanmu sebelumnya itu benar, dia melihat Tika sedang pamit pada ibu bapaknya.
“Astaghfirullah! Mengapa bisa terjadi demikian?
“Mia, aku boleh nggak minta tolong sama kamu?
“Minta tolong apa?
“Gini, Rima marah padaku, menurutnya akulah yang menceritakan pada teman-teman”.
Apakah kamu mau menjelaskan semuanya pada Rima?
“Baiklah, aku akan menjelaskan semuanya pada Rima”.
                Ditaman, Rima murung dan merasa bersalah pada Difa. Ia sadar, hal itu memang kenyataan dan ingin meminta maaf pada teman-temannya. Ketika itu, datanglah Difa dan Mia.
“Begini Rima,Itu semua bukan salah Difa. Tika lah yang menceritakan semuanya, dia melihatmu sedang pamit pada Orangtuamu.
“Akulah yang seharusnya minta maaf, walaupun Difa yang menceritakan hal itu, aku harusnya nggak masalah, karna memang itulah keadaan yang sebenarnya. Aku harusnya sadar dari dulu, akhirnya pasti akan terjadi seperti ini.
Difa, maafin aku. Tolong temani aku untuk menjelaskan ini semua pada teman-teman.
“iya, maafin aku juga ya. Ayo sekarang kita jelasin pada teman-teman sekarang.
                Sejak penjelasan itu tak ada seorang pun yang mengejek Rima.. Rima pun tak malu untuk mengundang temannya datang ke rumahnya.



^Aku memang belumpernah punya sahabat, tapi aku nggak munafik.
Aku ingin punya sahabat, walaupun mungkin orang yang aku harapn buat jadi sahabatku tak pernah ada didunia.
Jadi berbahagialah buat kamu yang masih memiliki sahabat hari ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar